Selasa, 08 Agustus 2017

Banda : The Dark Forgotten Trail - Sebuah dokumenter yang syahdu, puitis, indah dan menghanyutkan!

Banda : The Dark Forgotten Trail merupakan sebuah film dokumenter persembahan dari Lifelike Pictures yang digarap oleh Jay Subiyakto, dimana Reza Rahadian didapuk menjadi narrator dalam versi Bahasa Indonesia dan Ario Bayu dalam versi Bahasa Inggris. Naskah dokumenter ini ditulis oleh Irfan Ramli, sinematografi oleh Ipung Rachmat Syaiful dan diproduseri oleh Sheila Timothy dan Abdul Aziz.



Menceritakan tentang perjalanan panjang Nusantara dengan berbagai aspek budaya yang kaya di dalamnya. Kisah ini dimulai saat segenggam pala di Pasar Eropa dianggap jauh lebih berharga dibanding sepeti emas. Monopoli Bangsa Arab dan perseteruan dalam Perang Salib membawa Bangsa Eropa ke dalam perburuan untuk menemukan pulau-pulau penghasil rempah. Kepulauan Banda, yang kala itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh, menjadi kawasan yang paling diperebutkan. Pembantaian massal, Perbudakan dan Perebutan kekuasaan terjadi di Banda. Dari sinilah perjalanan panjang penjajahan negeri ini di mulai, ketika Belanda dan Portugis mulai mencoba untuk menancapkan kekuasaan mereka dan memonopoli pulau-pulau penghasil rempah.




Menyaksikan Banda : The Dark Forgotten Trail seolah menyusuri perjalanan panjang penuh kejayaan sekaligus memilukan. Melalui narasi yang dibawakan dengan sangat apik oleh Reza Rahadian, penonton seolah diajak melakukan perjalanan menembus waktu untuk melihat betapa kaya dan indahnya negeri ini. Perlahan tapi pasti, Banda bertutur dengan caranya yang unik dan merunutkan peristiwa-peristiwa bersejarah dunia yang melibatkan Kepulauan Banda di dalamnya.





Syahdu, puitis, indah sekaligus menghanyutkan. Itulah yang saya bisa ungkapkan ketika menyaksikan dokumenter dengan durasi 94 menit ini. Menyajikan pemandangan alam di Timur Indonesia yang begitu memanjakan mata, film ini disokong dengan tata suara yang juara dan mampu membawa penonton masuk dalam kisah yang ingin disampaikan. Di dalamnya, ada beberapa Narasumber yang menuturkan kisah mereka tentang Kepulauan Banda. Dan saya merasa tercerahkan setelah menonton film ini.

Menyoroti berbagai hal di dalamnya yang bisa dijadikan pelajaran untuk generasi saat ini, Banda tidak terkesan menggurui. Caranya bertutur justru semakin membuat saya ingin mempelajari lebih dalam tentang kekayaan alam dan budaya negeri ini, yang oleh generasi sekarang seperti sudah dilupakan begitu saja.


“Melupakan masa lalu, adalah sama dengan mematikan masa depan bangsa ini.” Tutur Reza sebagai narrator dalam film ini.





Bagi saya, bagian terbaik dari Banda : The Dark Forgotten Trail ada pada bagian akhirnya, saat Reza membacakan salah satu puisi karya Chairil Anwar dan ditutup dengan lagu Indonesia Raya yang membuat saya terenyuh dan merinding menontonnya.

Begini kira-kira isi puisinya :

Cerita buat Dien Tamaela

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Beta Pattiradjawane
Kikisan laut
Berdarah laut.

Beta Pattiradjawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta pattiradjawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kurim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Selamat menonton :) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar