Rabu, 08 Maret 2017

Galih dan Ratna : Ketika Idealisme bertemu dengan Realitas.

Sutradara : Lucky Kuswandi
Pemain : Sheryl Sheinafia, Refal Hady, Joko Anwar dan Marissa Anita.


Galih dan Ratna arahan Lucky Kuswandi yang tayang serentak di bioskop-bioskop tanah air tanggal 9 maret 2017 mendatang ini merupakan 'kemasan baru' dari film lawas Gita Cinta dari SMA yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessi Gusman. Ada kekhawatiran tersendiri bagi saya untuk menyaksikan versi Lucky ini, mengingat film aslinya yang dirilis pada tahun 1979 arahan Arizal dan terinspirasi dari novel karya Eddy D. Iskandar tersebut sangatlah fenomenal dan memorable sampai sekarang. Namun, ketika saya mendapat kesempatan untuk menghadiri press screening-nya beberapa hari lalu, kekhawatiran saya tersebut langsung sirna begitu saja.

Galih (Refal Hady) adalah siswa pandai dan introvert yang sangat menyayangi dan mengagumi almarhum ayahnya. Ia dihadapkan pada pilihan sulit ketika idealismenya harus berbenturan dengan realita hidup yang cukup pahit. Suatu hari, di sekolahnya kedatangan murid baru asal Jakarta bernama Ratna (Sheryl Sheinafia). Dengan hadirnya perempuan cantik dan berbakat dalam bermusik ini, kehidupan Galih pun seketika berubah. Keduanya kemudian menjalin cinta di SMA dan membawa perubahan bagi banyak orang di sekeliling mereka, namun apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan segala rintangan yang ada?





Mengusung tema yang lebih kekinian tanpa harus menghilangkan beberapa sisi nostalgic-nya, Lucky Suwandi bisa dibilang cukup berhasil menyajikan sebuah tontonan hangat dan berkesan. Melalui arahannya, Galih dan Ratna versi modern ini menghadirkan kisah cinta pertama pada masa SMA, dibalut dengan elemen musik yang kuat sebagai penunjang cerita yang mengalir dengan sangat baik lewat alur penceritaan yang dinamis. Lucky berhasil menterjemahkan kompleksitas dari karakter-karakter utamanya dengan sangat baik.

Bagi saya pribadi, terlepas dari product placement yang cukup mengganggu, Galih dan Ratna cukup berhasil membawa feeling nostalgic di sepanjang filmnya. Memang harus diakui Lucky agak sedikit tertatih di awal film, namun perlahan tapi pasti ia berhasil mengatur ritme penceritaan dengan baik. Chemistry dari kedua pemain utamanya pun bisa dibilang sukses menghidupkan karakter Galih dan Ratna versi modern. Sheryl lagi-lagi membuat saya terpukau lewat perannya dalam film ini, ia seolah menjelma menjadi sosok Ratna dengan sangat sempurna. Begitupun dengan Refal, kekalutan dalam karakter Galih mampu ia tonjolkan dengan baik, Joko Anwar dan Marissa Anita meskipun mendapat peran pendamping, tapi mereka berhasil mencuri perhatian!

Belum lagi soal pemilihan lagu-lagu dalam filmnya yang ciamik, dan aransemen barunya pun terdengar cukup fresh dan easy listening. Overall, Galih dan Ratna versi Lucky ini sebenarnya masih menampilkan kisah percintaan anak muda yang memang klise dan terkesan konyol di beberapa bagian, tapi beruntung kemasannya menarik dan menyenangkan!


Selamat menonton! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar