Senin, 14 Agustus 2017

Annabelle Creation : Fresh, menakutkan dan menyenangkan!

Annabelle Creation merupakan bagian dari The Conjuring Universe yang dibangun oleh James Wan dan produser Peter Safran. Kesuksesan dua film The Conjuring (2013 & 2016) dan Annabelle (2014), membuat Warner Bros. Pictures melanjutkan kisahnya. Dalam Creation, David F. Sandberg dipercaya untuk menahkodai film yang berkisah tentang awal mula teror boneka Annabelle.



Samuel (Anthony LaPaglia) & Esther (Miranda Otto) Mullins adalah sepasang suami istri yang baru saja kehilangan putri mereka, Bee, dalam sebuah kecelakaan tragis. The Mullins dikenal masyarakat sekitar dengan hasil kerajinan tangan mereka dalam membuat berbagai bentuk boneka. Dua belas tahun sejak peristiwa yang menewaskan putri semata wayang mereka, keluarga tersebut menampung Suster Charlotte (Stephanie Sigman) beserta enam gadis belia : Linda (Lulu Wilson), Janice (Talitha Bateman), Nancy (Philippa Coulthard), Carol (Grace Fultron), Kate (Tayler Buck) dan Tierney (Lou Lou Safran), dari sebuah panti asuhan yang sudah ditutup. Kehadiran mereka justru membawa teror mencekam sekaligus menguak sebuah rahasia yang ditutup oleh keluarga Mullins rapat-rapat.



Setelah kesuksesan Lights Out tahun lalu, David F. Sandberg berhasil menciptakan nuansa horror mencekam dengan berbagai scene menakutkan yang ‘inovatif’ dalam Annabelle Creation. Sandberg tidak hanya berhasil menciptakan sekumpulan adegan jump scare yang efektif, ia juga berhasil meramu film ini dengan takaran yang pas : membagi porsi teror dengan seimbang pada setiap karakter dan juga memberikan tempat pada penonton untuk peduli pada tokoh-tokoh di dalam filmnya. Penonton seolah diundang masuk ke dalam sebuah wahana seram, hasilnya? Luar biasa menghibur dan menyenangkan. Saya pribadi menyukai bagaimana Sandberg ‘menjahit’ benang merah antara Annabelle Creation dan film sebelumnya (2014).



Kredit lebih saya berikan pada dua cast utamanya, Lulu Wilson dan Talitha Bateman, yang tampil luar biasa bagus dengan berbagai ekspresi ketakutan yang mereka berikan. Tidak hanya boneka Annabelle, Sandberg juga ‘mengundang’ karakter-karakter lainnya yang tidak kalah menyeramkan. Ini yang pada akhirnya membuat Annabelle Creation seolah naik kelas jauh dari film pendahulunya. Menghibur, fresh, menakutkan dan menyenangkan adalah kesan yang bisa saya ungkap seusai menonton filmnya.
Highly recommended! Selamat menonton J  

   

Selasa, 08 Agustus 2017

Banda : The Dark Forgotten Trail - Sebuah dokumenter yang syahdu, puitis, indah dan menghanyutkan!

Banda : The Dark Forgotten Trail merupakan sebuah film dokumenter persembahan dari Lifelike Pictures yang digarap oleh Jay Subiyakto, dimana Reza Rahadian didapuk menjadi narrator dalam versi Bahasa Indonesia dan Ario Bayu dalam versi Bahasa Inggris. Naskah dokumenter ini ditulis oleh Irfan Ramli, sinematografi oleh Ipung Rachmat Syaiful dan diproduseri oleh Sheila Timothy dan Abdul Aziz.



Menceritakan tentang perjalanan panjang Nusantara dengan berbagai aspek budaya yang kaya di dalamnya. Kisah ini dimulai saat segenggam pala di Pasar Eropa dianggap jauh lebih berharga dibanding sepeti emas. Monopoli Bangsa Arab dan perseteruan dalam Perang Salib membawa Bangsa Eropa ke dalam perburuan untuk menemukan pulau-pulau penghasil rempah. Kepulauan Banda, yang kala itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh, menjadi kawasan yang paling diperebutkan. Pembantaian massal, Perbudakan dan Perebutan kekuasaan terjadi di Banda. Dari sinilah perjalanan panjang penjajahan negeri ini di mulai, ketika Belanda dan Portugis mulai mencoba untuk menancapkan kekuasaan mereka dan memonopoli pulau-pulau penghasil rempah.




Menyaksikan Banda : The Dark Forgotten Trail seolah menyusuri perjalanan panjang penuh kejayaan sekaligus memilukan. Melalui narasi yang dibawakan dengan sangat apik oleh Reza Rahadian, penonton seolah diajak melakukan perjalanan menembus waktu untuk melihat betapa kaya dan indahnya negeri ini. Perlahan tapi pasti, Banda bertutur dengan caranya yang unik dan merunutkan peristiwa-peristiwa bersejarah dunia yang melibatkan Kepulauan Banda di dalamnya.





Syahdu, puitis, indah sekaligus menghanyutkan. Itulah yang saya bisa ungkapkan ketika menyaksikan dokumenter dengan durasi 94 menit ini. Menyajikan pemandangan alam di Timur Indonesia yang begitu memanjakan mata, film ini disokong dengan tata suara yang juara dan mampu membawa penonton masuk dalam kisah yang ingin disampaikan. Di dalamnya, ada beberapa Narasumber yang menuturkan kisah mereka tentang Kepulauan Banda. Dan saya merasa tercerahkan setelah menonton film ini.

Menyoroti berbagai hal di dalamnya yang bisa dijadikan pelajaran untuk generasi saat ini, Banda tidak terkesan menggurui. Caranya bertutur justru semakin membuat saya ingin mempelajari lebih dalam tentang kekayaan alam dan budaya negeri ini, yang oleh generasi sekarang seperti sudah dilupakan begitu saja.


“Melupakan masa lalu, adalah sama dengan mematikan masa depan bangsa ini.” Tutur Reza sebagai narrator dalam film ini.





Bagi saya, bagian terbaik dari Banda : The Dark Forgotten Trail ada pada bagian akhirnya, saat Reza membacakan salah satu puisi karya Chairil Anwar dan ditutup dengan lagu Indonesia Raya yang membuat saya terenyuh dan merinding menontonnya.

Begini kira-kira isi puisinya :

Cerita buat Dien Tamaela

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Beta Pattiradjawane
Kikisan laut
Berdarah laut.

Beta Pattiradjawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta pattiradjawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kurim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Selamat menonton :) 


Selasa, 01 Agustus 2017

Pulau Pahawang : Surga kecil tersembunyi di Lampung, Indonesia.

Sudah lama rasanya Pulau itu memanggilku, memanggil agar suatu hari aku bisa datang dan mengunjunginya. Namun, karena kesibukan di Ibukota Jakarta yang terlampau padat, sulit rasanya untuk bisa meluangkan waktuku agar bisa datang ke Pulau itu, Pahawang namanya. Dari beberapa tempat wisata yang pernah aku kunjungi, Pulau Pahawang adalah salah satu Pulau yang cukup terkenal belakangan ini di kalangan para wisatawan. Pesona bawah lautnya sudah banyak diperbincangkan oleh mereka-mereka yang gemar berwisata alam. Akhirnya, pada satu kesempatan di jumat sore yang cukup hectic di kantor, aku memutuskan untuk mendaftarkan diri pada sebuah biro perjalanan yang menawarkan paket murah ke Pulau Pahawang. Tak ada banyak hal yang perlu aku persiapkan kala itu, hanya bermodal nekat dan kerinduan pada air asin yang terkadang membebaskan aku dari belenggu kepenatan kota Jakarta. Beruntung, masih ada 1 slot tempat tersedia di biro perjalanan tersebut. Tanpa pikir panjang, sehabis menyelesaikan pekerjaan di kantor, aku kembali pulang ke rumah untuk sekedar bersih-bersih dan membawa baju secukupnya dan perlengkapan mandi serta kelengkapan untuk snorkeling.



Pulau Pahawang adalah Desa dan Pulau di Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Indonesia. Untuk mencapainya, aku menggunakan moda transportasi Bus AC antar kota, antar Provinsi. Dari Terminal Tanjung Priok (ada juga Bus dari Kalideres dan Pulo Gadung) menuju Pelabuhan Merak. Ongkosnya cukup terjangkau, hanya sekitar Rp28.000,- dan menempuh perjalanan kurang lebih 2-3 jam. Sesampainya di Pelabuhan Merak, aku bertemu dengan para peserta open trip dari biro perjalanan yang aku gunakan saat itu. Total peserta saat itu sekitar 34 orang dengan biaya trip sekitar Rp420.000,- (Harga tersebut sudah all-in dengan tiket Kapal Ferry PP, makan selama di Pulau, tiket ke tempat wisata dan juga sewa bus mini dan perahu kecil untuk hopping island).



Tepat pukul 1 dini hari, kapal ferry dari Pelabuhan Merak siap berangkat menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung dan siap menempuh perjalanan kurang lebih 3-4 jam. Bagi yang ingin menggunakan eksekutif kelas, anda harus siap merogoh kocek tambahan sekitar Rp10.000,-. Eksekutif Kelas di dalam kapal ferry ini adalah sebuah ruangan ber-AC  yang cukup besar dan nyaman. Jadi, sambil menunggu perjalanan sampai di Bakauheni, para penumpang bisa beristirahat terlebih dahulu. Jika tidak ingin menggunakan eksekutif kelas, kita bisa istirahat outdoor di sekeliling kapal ferry, tapi harus pake jaket yah karena angin cukup kencang.



Pukul 4.30 wib sampailah di Pelabuhan Bakauheni yang cukup besar dan diluar dugaan sangat ramai kala itu. Biro Perjalanan sudah menyiapkan 2 bus mini untuk para peserta, dengan bus mini tersebut perjalanan berlanjut ke Dermaga Ketapang yang menempuh waktu 3-4 jam. Perjalanan tidak mulus, karena rute yang dilewati jalanannya cukup curam dan tidak semuanya beraspal.



Sekitar pukul 8 pagi akhirnya tiba di Dermaga Ketapang dan sebelum menyebrang ke Pulau Pahawang, biro perjalanan menyiapkan sarapan pagi berupa nasi uduk bagi para peserta. Tepat Pukul 9 akhirnya aku dan para peserta menyebrang ke Pulau Pahawang dengan menggunakan perahu kayu kecil yang cukup untuk 17-20 orang. Perjalanan menyebrang kali ini hanya sekitar 1 jam dan langsung hopping island ke beberapa spot menarik yang ada di sekitar Pulau Pahawang sebelum akhirnya kita sampai di Pulau tersebut untuk beristirahat sejenak dan makan siang. 



Biro Perjalanan sudah mengatur sedemikian rupa agar para peserta merasa nyaman dengan homestay yang dipilih. Ada dua rumah penduduk yang dijadikan tempat tinggal untuk para peserta, dengan beberapa kamar tidur yang cukup besar dan juga kamar mandi. Listrik di Pulau Pahawang hanya menyala dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi saja, selebihnya penduduk sekitar tidak menggunakan listrik untuk keseharian mereka.
Satu hal yang paling aku sukai dari setiap perjalanan yang aku tempuh sendiri, adalah aku bisa berjumpa dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Bisa bertukar cerita bahkan sampai bertukar pengalaman ngetrip ke beberapa tempat yang belum pernah aku kunjungi. Berbicara dengan penduduk setempat adalah salah satu kegiatan yang cukup mengasyikan buatku. Kemarin salah seorang penduduk sempat bercerita tentang hidupnya di Pulau Pahawang.
“Banyak orang-orang kota yang datang ke sini untuk mencari kesunyian dan ketenangan, tapi kalo kita di sini kadang kangen dengan keramaian yang ada di kota. Saya penasaran bagaimana yah rasanya tinggal di kota? Tapi, apapun itu, saya selalu bersyukur sudah diberi kehidupan oleh Tuhan. Karena semua orang sudah ada takdirnya masing-masing. Meskipun hidup berkecukupan di sini, tapi saya senang karena anak-anak dan istri saya bahagia dengan kesederhanaan yang ada di Pulau ini.”
Begitu katanya.
Aku pun tersenyum mendengarnya dan cukup setuju dengan apa yang dia ucapkan.



Seperti yang sudah aku dengar dari banyak teman pelancong lainnya, Pahawang memang menawarkan sejuta keindahan di dalamnya. Tempat ini layaknya surga kecil yang tersembunyi di Lampung. Berat rasanya bagiku untuk meninggalkan tempat yang pesona lautnya sungguh indah ini. Berenang menuju spot-spot cantik bawah laut memang menjadi hal yang sangat sentimentil bagiku, karena ketika berada di dalamnya, aku bisa merasa tenang dan damai sambil mengagumi berbagai biota laut yang ada.



Taman Nemo adalah spot favoritku di Pahawang, taman buatan ini menawarkan sejumlah keindahan yang membuatkan diam seribu bahasa karena terpesona dengan berbagai jenis ikan dan karang di dalamnya. Berenang bersama ikan-ikan ini membuatku merasa jauh lebih bersyukur karena telah diberi kehidupan oleh-Nya.

Kelak, suatu hari nanti aku pasti kembali.

Kembali ke surga kecil tersembunyi di Lampung yang bernama Pahawang. J

Kamis, 29 Juni 2017

#Sweet20 is simply my favorite among other versions of "Miss Granny", Tatjana gave her BEST PERFORMANCE in here.

Sutradara : Ody C. Harahap
Pemain : Tatjana Saphira, Slamet Rahardjo, Niniek L Karim, Morgan Oey, Lukman Sardi & Kevin Julio.
Penulis skenario : Upi


Bagi beberapa orang yang sudah menyaksikan Miss Granny (Korea Selatan) dari CJ Entertainment, pasti sangat antusias untuk menyaksikan adaptasi resmi versi Indonesia yang tahun ini dirilis bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri. Setelah sukses di adaptasi oleh beberapa negara, tahun ini giliran negara kita yang siap menyajikan Miss Granny dengan segala nilai kearifan lokal.

Berkisah tentang Fatmawati (Niniek L Karim) yang berusia 70 tahun. Ia tinggal bersama anak lelakinya, Aditya (Lukman Sardi), menantunya Salma (Cut Mini) serta dua cucunya, Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key). Sifatnya yang cerewet dan suka megatur rumah tangga anaknya, membuat Aditya berinisiatif untuk mengirimkannya ke sebuah panti jompo. Mendengar hal tersebut, Fatma merasa sangat terpukul dan pergi dari rumah. Di perjalanan, ia menemukan sebuah studio foto bernama 'forever young', di sinilah kisah barunya dimulai. Sebuah keajaiban terjadi saat ia menjelma menjadi seorang gadis berusia 20 tahun dan menggunakan nama artis idolanya sebagai nama samaran, Mieke Wijaya (Tatjana Saphira). Konflik baru muncul saat ia bertemu dengan seorang pemuda tampan bernama Alan (Morgan Oey) yang jatuh hati padanya. Akankah Fatma kembali ke wujud aslinya dan kembali pada keluarganya?


Skrip besutan Upi dengan beberapa modifikasinya, di luar dugaan berhasil menampilkan sebuah tontonan yang bukan hanya menghibur, namun juga penuh akan nilai-nilai kehidupan. Beberapa dialog berhasil memancing tawa dengan lawakan segar yang bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Belum lagi adegan pamungkasnya yang siap memberi 'tamparan' haru bagi siapa saja yang menontonnya. Melalui arahan Ody C. Harahap, Sweet 20 berhasil menampilkan penampilan terbaik dari para aktor-aktris pendukungnya. Yang paling mencuri perhatian tentu saja sang tokoh utama, Mieke, diperankan dengan sangat sempurna oleh aktris Tatjana Saphira. Karakternya begitu hidup lengkap dengan mimik khas nenek-nenek namun tetap trendy. Slamet Rahardjo dan Lukman Sardi pun demikian, keduanya beradu akting dengan Tatjana dan menyajikan akting kelas wahid negeri ini.

Jangan lupakan original soundtrack-nya yang merupakan sekumpulan tembang-tembang lawas yang dikemas dengan sangat fresh dan menarik anak-anak muda kaum millenials. Mulai dari 'Payung Fantasi' yang cukup easy listening sampai 'Bing' yang begitu memikat.

Overall, bagi saya Sweet 20 langsung dengan mudah menjadi film favorite diantara versi-versi lainnya yang sudah tayang lebih dulu. Lucu, mengharukan dan didukung oleh penampilan yang begitu memikat dari jajaran pemainnya.


Selamat menonton :)

Selasa, 30 Mei 2017

Ziarah - Perjalanan cinta yang begitu menyesakkan dada.

Director : B.W Purba Negara
Writer : B.W Purba Negara
Star : Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Ledgar Subroto.


Ziarah berkisah tentang seorang nenek bernama Mbah Sri (Ponco Sutiyem) yang sedang melakukan pencarian terhadap makam suaminya Pawiro Sahid, yang pergi berperang pada Agresi Militer Belanda ke-2 di tahun 1948. Ia berkeinginan untuk menemukan makam tersebut agar kelak bisa dikebumikan di samping makam sang suami. Kampung demi kampung ia kunjungi tanpa lelah demi rasa cintanya pada belahan jiwanya, bahkan kata-kata terakhir dari Pawiro sebelum pergi berperang selalu terngiang di telinganya hingga kini, saat usianya tak muda lagi. Berhasilkah ia?

Film panjang pertama arahan B.W Purba Negara ini terinspirasi dari targedi Tsunami Aceh yang terjadi beberapa tahun silam. Ia tergugah dengan kisah para korban selamat yang berupaya berdamai dengan masa lalu mereka. Dengan alur yang lambat dan menggunakan pendekatan semi-dokumenter, Ia mampu menuturkan kisah Mbah Sri dengan sangat baik. Perlahan tapi pasti, rentetan peristiwa yang dialami sang tokoh utama membawa penonton pada akhir cerita yang bagi saya sangat terasa menyesakkan dada.

Kredit lebih saya tujukan pada Ponco Sutiyem yang berperan sebagai Mbah Sri, di usianya yang sudah tidak muda lagi, Ia tampil gemilang dan total, bahkan di beberapa adegan saya sampai geleng-geleng kepala karena keapikan kualitas aktingnya.



Walau berbudget minim dan menggunakan peralatan seadanya, namun ternyata Ziarah mampu menuturkan kisah yang menohok dan berhasil menangkap esensi tentang kehidupan, kehilangan dan rasa ikhlas untuk berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu.

Film ini berhasil mengangkat kultur budaya Jawa dengan caranya yang sederhana namun berkelas. Mungkin memang alurnya terasa menjemukan di awal dan filmnya sendiri memang tidak mudah untuk di nikmati bagi sebagian orang, tapi percayah, apa yang disuguhkan oleh Purba Negara di sini akan membuat setiap orang yang menontonnya merasakan kesederhanaan sosok Mbah Sri dan tersenyum hangat melihat akhir kisahnya yang pilu.

Selamat menonton.

Despite of the brilliant performance from its casts, Critical Eleven unfortunately is boring in so many ways and way too long.

Directors : Monty Tiwa & Robert Ronny
Music Composed : Andi Rianto
Cinematography : Yudi Datau
Writers : Ika Natassa, Jenny Jusuf, Monty Tiwa & Robert Ronny
Stars : Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Hannah Al Rashid, Hamish Daud, Refal Hady, Widyawaty & Slamet Rahadjo.


Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ika Natassa ini berkisah tentang kisah romantis Anya (Adinia Wirasti) dan Ale (Reza Rahadian) yang dipertemukan dalam sebuah penerbangan dari Jakarta ke Sydney. Dalam 3 menit pertemuan tersebut, Anya mulai terpikat pada sosok Ale yang karismatik dan gagah. 7 jam berikutnya mereka menghabiskan waktu saling bersenda gurau dan membicarakan tentang banyak hal, sampailah pada 8 menit sebelum berpisah, Ale yakin bahwa Anya adalah sosok yang tepat untuk mendampingi hidupnya. Tanpa diduga, takdir mempertemukan mereka kembali dan melalui cara yang 'tidak biasa', Ale akhirnya memberanikan diri untuk melamar Anya dan memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya.

Awalnya, semua kisah romantis mereka terasa manis sampai sebuah tragedi besar menimpa keduanya dan mempertaruhkan segalanya. Akankah mereka bertahan dengan kekuatan cinta yang mereka miliki?


Adinia Wirasti dan Reza Rahadian berhasil mencuri perhatian saya saat keduanya tampil dalam film 'Kapan Kawin?' beberapa waktu lalu. Keduanya berhasil menunjukkan chemistry yang apik dalam film tersebut, maka tidak heran ketika pertama kali saya mendengar bahwa Wirasti dan Rahadian akan menghidupkan karakter Ale dan Anya dalam Critical Eleven, saya pun merasa sangat antusias dan yakin bahwa mereka akan bermain sempurna.

Harapan saya menjadi kenyataan saat melihat chemistry yang luar biasa hidup antara keduanya, memerankan dua karakter utama dalam film ini, Wirasti dan Rahadian berhasil mencuri hati saya dan tampil sungguh memikat serta penuh cinta. Melalui arahan Monty Tiwa dan Robert Ronny, jajaran cast dalam Critical Eleven berhasil menampilkan penampilan terbaik mereka, mulai dari Refal Hady, Hannah Al Rashid sampai Hamish Daud.

Cinematography dari Yudi Datau berhasil menyuguhkan gambar-gambar cantik kota New York, begitupun dengan scoring dari Andi Rianto yang terasa begitu magis, menyokong kisah cinta Ale dan Anya.

Cara bertutur dalam film ini pun bisa dibilang sangat enak untuk diikuti, namun sayang itu hanya terjadi di paruh awal filmnya saja, sisanya?  

Sulit bagi saya untuk dapat menikmati sisa film ini : banyak adegan repetitif yang pada akhirnya membuat jenuh dan terasa membosankan. Belum lagi dengan durasi dalam filmnya yang terasa kepanjangan dan semakin menuju ending, script-nya terasa kedodoran dan jujur saya hampir saja walk-out. Konflik yang tipis dalam Critical Eleven seharusnya bisa dieksekusi lebih halus lagi sehingga penonton tidak merasa kebosanan dengan kesedihan yang berlarut-larut layaknya sinetron.

Sangat disayangkan sebenarnya, terlepas dari penampilan gemilang para pemainnya, Critical Eleven justru terasa kepanjangan dan membosankan di paruh akhirnya.

Jumat, 28 April 2017

13 Reasons Why : Be kind and not being cruel to others.

First time i watched the first episode of this series, I didn't think I'd follow it until the very last episode. Cause I don't really like the pilot episode, all of the characters are annoying and the flow is very slow : it makes me feel bored.

But i don't know why, i keep watching it and curious about the life of Hannah Baker.

And finally,
I can say that : this show is really good!!!

Slow in the beginning and will slap you in the face at the end of the episode.

Have to admit that it is really hard for me to watch the final episode of #13ReasonsWhy

It's just painful to watch.
It makes me realize how important every little, unkind thing you say to someone can have such a huge impact to other people's life.
It teaches me to be kind and not being cruel to others.

There might be hundreds of Hannah Baker (out there) who might have committed suicide and nobody ever knew why.

And this show will definitely give a serious lesson for teenagers :

Teach them to be kind, not cruel.
Teach them to not bully others.
Teach them to respect women.
Teach them that no matter what happens in your life, your family will always be your first place to ask for help and will always love you unconditional.

'13 Reasons Why'
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️

Rabu, 08 Maret 2017

Galih dan Ratna : Ketika Idealisme bertemu dengan Realitas.

Sutradara : Lucky Kuswandi
Pemain : Sheryl Sheinafia, Refal Hady, Joko Anwar dan Marissa Anita.


Galih dan Ratna arahan Lucky Kuswandi yang tayang serentak di bioskop-bioskop tanah air tanggal 9 maret 2017 mendatang ini merupakan 'kemasan baru' dari film lawas Gita Cinta dari SMA yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessi Gusman. Ada kekhawatiran tersendiri bagi saya untuk menyaksikan versi Lucky ini, mengingat film aslinya yang dirilis pada tahun 1979 arahan Arizal dan terinspirasi dari novel karya Eddy D. Iskandar tersebut sangatlah fenomenal dan memorable sampai sekarang. Namun, ketika saya mendapat kesempatan untuk menghadiri press screening-nya beberapa hari lalu, kekhawatiran saya tersebut langsung sirna begitu saja.

Galih (Refal Hady) adalah siswa pandai dan introvert yang sangat menyayangi dan mengagumi almarhum ayahnya. Ia dihadapkan pada pilihan sulit ketika idealismenya harus berbenturan dengan realita hidup yang cukup pahit. Suatu hari, di sekolahnya kedatangan murid baru asal Jakarta bernama Ratna (Sheryl Sheinafia). Dengan hadirnya perempuan cantik dan berbakat dalam bermusik ini, kehidupan Galih pun seketika berubah. Keduanya kemudian menjalin cinta di SMA dan membawa perubahan bagi banyak orang di sekeliling mereka, namun apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan segala rintangan yang ada?





Mengusung tema yang lebih kekinian tanpa harus menghilangkan beberapa sisi nostalgic-nya, Lucky Suwandi bisa dibilang cukup berhasil menyajikan sebuah tontonan hangat dan berkesan. Melalui arahannya, Galih dan Ratna versi modern ini menghadirkan kisah cinta pertama pada masa SMA, dibalut dengan elemen musik yang kuat sebagai penunjang cerita yang mengalir dengan sangat baik lewat alur penceritaan yang dinamis. Lucky berhasil menterjemahkan kompleksitas dari karakter-karakter utamanya dengan sangat baik.

Bagi saya pribadi, terlepas dari product placement yang cukup mengganggu, Galih dan Ratna cukup berhasil membawa feeling nostalgic di sepanjang filmnya. Memang harus diakui Lucky agak sedikit tertatih di awal film, namun perlahan tapi pasti ia berhasil mengatur ritme penceritaan dengan baik. Chemistry dari kedua pemain utamanya pun bisa dibilang sukses menghidupkan karakter Galih dan Ratna versi modern. Sheryl lagi-lagi membuat saya terpukau lewat perannya dalam film ini, ia seolah menjelma menjadi sosok Ratna dengan sangat sempurna. Begitupun dengan Refal, kekalutan dalam karakter Galih mampu ia tonjolkan dengan baik, Joko Anwar dan Marissa Anita meskipun mendapat peran pendamping, tapi mereka berhasil mencuri perhatian!

Belum lagi soal pemilihan lagu-lagu dalam filmnya yang ciamik, dan aransemen barunya pun terdengar cukup fresh dan easy listening. Overall, Galih dan Ratna versi Lucky ini sebenarnya masih menampilkan kisah percintaan anak muda yang memang klise dan terkesan konyol di beberapa bagian, tapi beruntung kemasannya menarik dan menyenangkan!


Selamat menonton! :)

Kamis, 23 Februari 2017

Lion : An incredible journey to find home.

Director : Garth Davis
Stars : Nicole Kidman, Dev Patel, Rooney Mara & Sunny Pawar.



Kisah nyata yang diadaptasi dari novel A long way home karya Saroo Brierley dan Larry Buttrose ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak berusia lima tahun yang tersesat dalam kereta yang membawanya ribuan kilometer di India, jauh dari rumah dan keluarganya. Anak itu bernama Saroo (Sunny Pawar) dan keadaan memaksanya untuk dapat bertahan hidup di jalanan Kolkata yang keras dan tidak senyaman rumahnya. Banyak peristiwa yang harus ia lalui sampai pada akhirnya diadopsi oleh pasangan asal Australia. Dua puluh lima tahun kemudian, berbekal kenangan, keteguhan hati dan keyakinan dalam dirinya, Saroo yang sudah tumbuh menjadi pemuda dewasa ini memutuskan untuk menemukan kembali rumah dan keluarganya yang hilang.

Perlahan tapi pasti, Garth Davis berhasil menuturkan kisah yang luar biasa ini menjadi sebuah tontonan yang mampu mengoyak hati para penontonnya. Dengan ritme penceritaan yang tepat, Lion menyajikan jalinan kisah yang menentramkan hati. Agak sedikit terbata-bata di awal, namun Lion berhasil memperlihatkan perkembangan karakter utamanya dan seolah mengajak penonton untuk masuk ke dalam kisah Saroo yang panjang namun tak kenal lelah untuk dapat menemukan kembali keluarganya. Davis berhasil mengeksekusi adegan tiap adegan yang walaupun beberapa diantaranya terkesan mentah dan predictable, namun cukup powerful dan sangat bermakna. Ia piawai menyoroti hal-hal sensitif dan mengangkat isu-isu sosial yang terjadi di india melalui sudut pandang Saroo kecil.

Dari departemen akting, Sunny Pawar jelas yang paling mencuri perhatian. Melalui gestur dan aktingnya yang natural, ia sangat menghidupkan karakter Saroo kecil sehingga penonton pun ikut merasakan dan prihatin dengan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Begitupun dengan Nicole Kidman yang lagi-lagi tampil gemilang, ia sangat sukses memerankan ibu adopsi dari Saroo. Dev Patel pun demikian, yang terkesan lemah di sini hanyalah Rooney Mara yang entah mengapa saya merasa karakternya kurang tergali dengan baik dan tidak diberikan porsi lebih banyak.

Overall, bagi saya Lion adalah sebuah perjalanan panjang untuk menemukan kembali rumah dan keluarga tercinta. Terlepas dari beberapa kekurangan dalam filmnya, Lion siap untuk mengoyak emosi dan membuat mata penontonnya basah melalui kisah Saroo yang sangat menyentuh.

Selamat menonton :)      

Salawaku : Road movie yang menampilkan keindahan Pulau Seram dengan kisah sederhana yang menyejukkan hati.

Sutradara : Pritagita Arianegara
Pemain : Karina Salim, Raihaanun, Jflow, Elko Kastanya.





Kisahnya sederhana, tentang seorang anak bernama Salawaku (Elko Kastanya) yang mencoba untuk mencari kakanya, Binaiya (Raihaanun) yang kabur dari kampungnya. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Saras (Karina Salim), seorang gadis kekinian asal jakarta yang sedang menghadapi problema kehidupan. Dengan latar belakang budaya dan cara hidup yang berbeda, keduanya memulai sebuah perjalanan yang akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.

Melalui naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Iqbal Fadly, Pritagita Arianegara mampu bertutur dengan ritme pengisahan yang tepat. Lewat arahannya, Salawaku bukan hanya menyajikan panorama Pulau Seram - Maluku yang indah, namun ia juga berhasil menyampaikan sebuah kisah sederhana tentang arti kehidupan tanpa harus terkesan preachy. Alurnya mengalir dengan sangat baik dan visualnya sungguh memanjakan mata saya, maka tidak heran rasanya seusai menyaksikan Salawaku, Pulau Seram langsung masuk dalam daftar tempat yang harus saya kunjungi kelak.

Dari departemen akting, Elko Kastanya jelas mencuri perhatian. Sebagai seorang pendatang baru di industri film Indonesia, ia berhasil membawakan karakter Salawaku dengan sempurna. Keluguan dan keberaniannya dalam menjalani hidup yang keras mampu ditampilkan olehnya dengan sangat natural. Raihaanun yang walau hanya tampil sebentar, mampu membuat saya speechless. Di tangannya, karakter Binaiya terasa begitu hidup. Begitupun dengan Karina Salim dan Jflow yang diluar dugaan mampu menampilkan chemistry unik yang asik. Ada satu scene di pinggir pantai yang cukup memorable dan berhasil membuat saya tersenyum sendiri, seolah saya berada dalam scene tersebut dan ikut diajak ngobrol oleh keduanya.

Menyaksikan Salawaku, saya seolah diajak untuk berpikir kembali tentang makna keberanian dalam hidup. Perjalanan karakter-karakter utamanya yang dinamis, penuh tawa dan emosi ini ternyata mampu meninggalkan sebuah kesan mendalam bagi saya.

Tidak berlebihan rasanya jika saya harus mengatakan bahwa Salawaku merupakan salah satu film terbaik tahun ini.

Selamat menonton :)