Jumat, 28 April 2017

13 Reasons Why : Be kind and not being cruel to others.

First time i watched the first episode of this series, I didn't think I'd follow it until the very last episode. Cause I don't really like the pilot episode, all of the characters are annoying and the flow is very slow : it makes me feel bored.

But i don't know why, i keep watching it and curious about the life of Hannah Baker.

And finally,
I can say that : this show is really good!!!

Slow in the beginning and will slap you in the face at the end of the episode.

Have to admit that it is really hard for me to watch the final episode of #13ReasonsWhy

It's just painful to watch.
It makes me realize how important every little, unkind thing you say to someone can have such a huge impact to other people's life.
It teaches me to be kind and not being cruel to others.

There might be hundreds of Hannah Baker (out there) who might have committed suicide and nobody ever knew why.

And this show will definitely give a serious lesson for teenagers :

Teach them to be kind, not cruel.
Teach them to not bully others.
Teach them to respect women.
Teach them that no matter what happens in your life, your family will always be your first place to ask for help and will always love you unconditional.

'13 Reasons Why'
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️

Rabu, 08 Maret 2017

Galih dan Ratna : Ketika Idealisme bertemu dengan Realitas.

Sutradara : Lucky Kuswandi
Pemain : Sheryl Sheinafia, Refal Hady, Joko Anwar dan Marissa Anita.


Galih dan Ratna arahan Lucky Kuswandi yang tayang serentak di bioskop-bioskop tanah air tanggal 9 maret 2017 mendatang ini merupakan 'kemasan baru' dari film lawas Gita Cinta dari SMA yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessi Gusman. Ada kekhawatiran tersendiri bagi saya untuk menyaksikan versi Lucky ini, mengingat film aslinya yang dirilis pada tahun 1979 arahan Arizal dan terinspirasi dari novel karya Eddy D. Iskandar tersebut sangatlah fenomenal dan memorable sampai sekarang. Namun, ketika saya mendapat kesempatan untuk menghadiri press screening-nya beberapa hari lalu, kekhawatiran saya tersebut langsung sirna begitu saja.

Galih (Refal Hady) adalah siswa pandai dan introvert yang sangat menyayangi dan mengagumi almarhum ayahnya. Ia dihadapkan pada pilihan sulit ketika idealismenya harus berbenturan dengan realita hidup yang cukup pahit. Suatu hari, di sekolahnya kedatangan murid baru asal Jakarta bernama Ratna (Sheryl Sheinafia). Dengan hadirnya perempuan cantik dan berbakat dalam bermusik ini, kehidupan Galih pun seketika berubah. Keduanya kemudian menjalin cinta di SMA dan membawa perubahan bagi banyak orang di sekeliling mereka, namun apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan segala rintangan yang ada?





Mengusung tema yang lebih kekinian tanpa harus menghilangkan beberapa sisi nostalgic-nya, Lucky Suwandi bisa dibilang cukup berhasil menyajikan sebuah tontonan hangat dan berkesan. Melalui arahannya, Galih dan Ratna versi modern ini menghadirkan kisah cinta pertama pada masa SMA, dibalut dengan elemen musik yang kuat sebagai penunjang cerita yang mengalir dengan sangat baik lewat alur penceritaan yang dinamis. Lucky berhasil menterjemahkan kompleksitas dari karakter-karakter utamanya dengan sangat baik.

Bagi saya pribadi, terlepas dari product placement yang cukup mengganggu, Galih dan Ratna cukup berhasil membawa feeling nostalgic di sepanjang filmnya. Memang harus diakui Lucky agak sedikit tertatih di awal film, namun perlahan tapi pasti ia berhasil mengatur ritme penceritaan dengan baik. Chemistry dari kedua pemain utamanya pun bisa dibilang sukses menghidupkan karakter Galih dan Ratna versi modern. Sheryl lagi-lagi membuat saya terpukau lewat perannya dalam film ini, ia seolah menjelma menjadi sosok Ratna dengan sangat sempurna. Begitupun dengan Refal, kekalutan dalam karakter Galih mampu ia tonjolkan dengan baik, Joko Anwar dan Marissa Anita meskipun mendapat peran pendamping, tapi mereka berhasil mencuri perhatian!

Belum lagi soal pemilihan lagu-lagu dalam filmnya yang ciamik, dan aransemen barunya pun terdengar cukup fresh dan easy listening. Overall, Galih dan Ratna versi Lucky ini sebenarnya masih menampilkan kisah percintaan anak muda yang memang klise dan terkesan konyol di beberapa bagian, tapi beruntung kemasannya menarik dan menyenangkan!


Selamat menonton! :)

Kamis, 23 Februari 2017

Lion : An incredible journey to find home.

Director : Garth Davis
Stars : Nicole Kidman, Dev Patel, Rooney Mara & Sunny Pawar.



Kisah nyata yang diadaptasi dari novel A long way home karya Saroo Brierley dan Larry Buttrose ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak berusia lima tahun yang tersesat dalam kereta yang membawanya ribuan kilometer di India, jauh dari rumah dan keluarganya. Anak itu bernama Saroo (Sunny Pawar) dan keadaan memaksanya untuk dapat bertahan hidup di jalanan Kolkata yang keras dan tidak senyaman rumahnya. Banyak peristiwa yang harus ia lalui sampai pada akhirnya diadopsi oleh pasangan asal Australia. Dua puluh lima tahun kemudian, berbekal kenangan, keteguhan hati dan keyakinan dalam dirinya, Saroo yang sudah tumbuh menjadi pemuda dewasa ini memutuskan untuk menemukan kembali rumah dan keluarganya yang hilang.

Perlahan tapi pasti, Garth Davis berhasil menuturkan kisah yang luar biasa ini menjadi sebuah tontonan yang mampu mengoyak hati para penontonnya. Dengan ritme penceritaan yang tepat, Lion menyajikan jalinan kisah yang menentramkan hati. Agak sedikit terbata-bata di awal, namun Lion berhasil memperlihatkan perkembangan karakter utamanya dan seolah mengajak penonton untuk masuk ke dalam kisah Saroo yang panjang namun tak kenal lelah untuk dapat menemukan kembali keluarganya. Davis berhasil mengeksekusi adegan tiap adegan yang walaupun beberapa diantaranya terkesan mentah dan predictable, namun cukup powerful dan sangat bermakna. Ia piawai menyoroti hal-hal sensitif dan mengangkat isu-isu sosial yang terjadi di india melalui sudut pandang Saroo kecil.

Dari departemen akting, Sunny Pawar jelas yang paling mencuri perhatian. Melalui gestur dan aktingnya yang natural, ia sangat menghidupkan karakter Saroo kecil sehingga penonton pun ikut merasakan dan prihatin dengan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Begitupun dengan Nicole Kidman yang lagi-lagi tampil gemilang, ia sangat sukses memerankan ibu adopsi dari Saroo. Dev Patel pun demikian, yang terkesan lemah di sini hanyalah Rooney Mara yang entah mengapa saya merasa karakternya kurang tergali dengan baik dan tidak diberikan porsi lebih banyak.

Overall, bagi saya Lion adalah sebuah perjalanan panjang untuk menemukan kembali rumah dan keluarga tercinta. Terlepas dari beberapa kekurangan dalam filmnya, Lion siap untuk mengoyak emosi dan membuat mata penontonnya basah melalui kisah Saroo yang sangat menyentuh.

Selamat menonton :)      

Salawaku : Road movie yang menampilkan keindahan Pulau Seram dengan kisah sederhana yang menyejukkan hati.

Sutradara : Pritagita Arianegara
Pemain : Karina Salim, Raihaanun, Jflow, Elko Kastanya.





Kisahnya sederhana, tentang seorang anak bernama Salawaku (Elko Kastanya) yang mencoba untuk mencari kakanya, Binaiya (Raihaanun) yang kabur dari kampungnya. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Saras (Karina Salim), seorang gadis kekinian asal jakarta yang sedang menghadapi problema kehidupan. Dengan latar belakang budaya dan cara hidup yang berbeda, keduanya memulai sebuah perjalanan yang akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.

Melalui naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Iqbal Fadly, Pritagita Arianegara mampu bertutur dengan ritme pengisahan yang tepat. Lewat arahannya, Salawaku bukan hanya menyajikan panorama Pulau Seram - Maluku yang indah, namun ia juga berhasil menyampaikan sebuah kisah sederhana tentang arti kehidupan tanpa harus terkesan preachy. Alurnya mengalir dengan sangat baik dan visualnya sungguh memanjakan mata saya, maka tidak heran rasanya seusai menyaksikan Salawaku, Pulau Seram langsung masuk dalam daftar tempat yang harus saya kunjungi kelak.

Dari departemen akting, Elko Kastanya jelas mencuri perhatian. Sebagai seorang pendatang baru di industri film Indonesia, ia berhasil membawakan karakter Salawaku dengan sempurna. Keluguan dan keberaniannya dalam menjalani hidup yang keras mampu ditampilkan olehnya dengan sangat natural. Raihaanun yang walau hanya tampil sebentar, mampu membuat saya speechless. Di tangannya, karakter Binaiya terasa begitu hidup. Begitupun dengan Karina Salim dan Jflow yang diluar dugaan mampu menampilkan chemistry unik yang asik. Ada satu scene di pinggir pantai yang cukup memorable dan berhasil membuat saya tersenyum sendiri, seolah saya berada dalam scene tersebut dan ikut diajak ngobrol oleh keduanya.

Menyaksikan Salawaku, saya seolah diajak untuk berpikir kembali tentang makna keberanian dalam hidup. Perjalanan karakter-karakter utamanya yang dinamis, penuh tawa dan emosi ini ternyata mampu meninggalkan sebuah kesan mendalam bagi saya.

Tidak berlebihan rasanya jika saya harus mengatakan bahwa Salawaku merupakan salah satu film terbaik tahun ini.

Selamat menonton :)  

Rabu, 11 Januari 2017

La La Land : A Beautiful Musical for Dreamers.




Director : Damien Chazelle
Writer : Damien Chazelle

La La Land membawa tema sebuah mimpi klasik yang dimiliki oleh setiap para pemimpi. Berkisah tentang kekuatan mimpi, percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak menyerah sekalipun banyak rintangan yang menghalangi untuk menggapai mimpi tersebut. Film ini seolah menegaskan bahwasannya setiap pemimpi bersedia untuk mengambil risiko dan mengorbankan segalanya untuk mencapai mimpi itu.

La La Land dibuka dengan adegan musikal di tengah kemacetan jalan bebas hambatan kota Los Angeles dengan teknis yang sangat mengesankan. Penonton diperkenalkan dengan dua karakter utamanya sesaat setelah adegan pembukanya. Mia (Emma Stone) adalah seorang calon aktris yang sibuk menapak karirnya melalui berbagai audisi sambil bekerja sebagai seorang barista. Sementara Sebastian (Ryan Gosling) adalah pianis jazz idealis yang bermimpi untuk membuka club jazz-nya sendiri suatu saat nanti. Perlahan tapi pasti, keduanya menjalin hubungan percintaan sambil mencoba menggapai mimpi masing-masing di tengah hiruk-pikuk Hollywood yang ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan.

Di tangan Damien Chazelle, La La Land bukan hanya menjadi sebuah film musikal untuk para pemimpi, namun ia juga menjadikan film ini sebagai sebuah penghormatan atau tribute untuk musik jazz dan seolah membawa saya untuk melakukan perjalan menembus waktu ke Hollywood Golden Era, yang dilengkapi dengan atmosfer jazz tempo dulu dan detil desain produksi yang sangat menakjubkan.

Chazelle berhasil mengarahkan Stone dan Gosling dengan sangat baik, keduanya menampilkan chemistry memikat dan meyakinkan sebagai sepasang kekasih. Namun bagi saya, Emma Stone-lah yang patut diberi kredit lebih, daya tariknya yang luar biasa besar menjadi nyawa utama dalam film ini. Puncaknya adalah ketika ia tampil dalam satu adegan audisi menyanyikan The Fools who Dream yang sangat powerful sekaligus emosional.

Selain Chazelle, Justin Hurwitz adalah sosok di belakang layar yang juga patut diberi apresiasi lebih. Melalui komposisi musiknya yang menakjubkan, La La Land tampil sangat hidup dan membuat siapapun terlena dengan lagu-lagu yang tersaji di sepanjang film.

Overall, La La Land bagi saya adalah paket lengkap yang bisa membuat setiap orang yang menontonnya ikut hanyut dalam kisah yang coba disampaikan oleh Damien Chazelle : begitu indah, memikat dan menyentuh.

Highly recommended.

Selamat menonton. :)  

Kamis, 05 Januari 2017

The Girl on the Train : If you liked the book, do not see the film!




Director : Tate Taylor
Writer : Erin Cressida Wilson.

The Girl on the Train menjadi salah satu film yang saya tunggu di bulan oktober tahun 2016 lalu. Sebuah film adaptasi dari novel terkenal karya Paula Hawkins itu menjadi sangat menjanjikan ketika ada nama Emily Blunt, Rebecca Ferguson dan disutradarai oleh Tate Taylor, yang karya sebelumnya (The Help) banyak mendapat pujian dari para kritikus. Terlebih ketika saya melihat trailernya dan membaca novelnya. Sebuah kisah yang cukup kompleks namun dikemas dengan sangat cerdas oleh Paula Hawkins dan berhasil menampilkan sejumlah imajinasi mencekam dalam benak saya kala itu. Novelnya sangat amat memuaskan buat saya sebagai pecinta genre thriller/crime/drama dan ekspektasi saya menjadi semakin melambung tinggi untuk filmnya kelak.

Berkisah tentang Rachel Watson (Emily Blunt), yang belum sepenuhnya bisa melanjutkan hidupnya setelah berpisah dari suaminya, Tom (Justin Theroux). Setiap hari ia selalu mabuk dan menggunakan moda transportasi kereta api untuk sekedar melihat kehidupan baru Tom dengan istri barunya, Anna (Rebecca Ferguson) dan buah hati mereka Evie. Berselang beberapa rumah dari kediaman Tom dan Anna, ada sepasang suami istri yang terlihat sempurna di mata Rachel, pasangan itu adalah Scott (Luke Evans) dan Megan (Haley Bennett). Perlahan tapi pasti, Rachel mulai terobsesi dengan kehidupan pasangan tersebut. Ia mengagumi mereka, berharap bahwa dirinya bisa menemukan seseorang seperti Scott dan hidup bahagia penuh cinta seperti kehidupan Scott dan Megan. Setiap harinya dari dalam kereta, ia selalu memperhatikan kehidupan pasangan tersebut, sampai pada suatu hari saat Megan dinyatakan hilang dan mayatnya ditemukan beberapa hari kemudian.

Film arahan Tate Taylor ini memiliki begitu banyak problema, salah satunya yang paling saya sayangkan adalah mengubah setting tempat di New York, bukannya di kota London. Selain itu, pengarahan Taylor yang sangat lemah tidak mampu membangun atmosfer kelam sepanjang film, ditambah lagi dengan pengembangan karakter-karakter utamanya yang cenderung minimalis dan cara bercerita dalam film ini yang repetitif dan sangat menjemukan. Naskah garapan Erin Cressida Wilson tidak berhasil memberikan ruang penceritaan yang cukup layak bagi karakter-karakter pendukungnya. Akhirnya, mereka hanya terkesan sebagai tempelan atau pelengkap dari kisah tiga karakter utamanya.

Emily Blunt tampil sangat meyakinkan sebagai wanita alkoholik yang hidupnya berantakan setelah berpisah dari suaminya. Sementara Ferguson dan Bennett sayangnya tidak diberikan porsi yang seharusnya diceritakan dalam novel, karakter mereka sebagai dua wanita yang memegang peranan penting dalam film ini seolah dikesampingkan begitu saja. Sama halnya seperti mereka berdua, karakter-karakter pria dalam film ini benar-benar terasa sangat kurang digali lebih dalam dan berakhir seperti tempelan semata.

Overall, The Girl on the Train versi film ini terasa dangkal, menyedihkan dan sangat mengecewakan. Bahkan penampilan gemilang dari Emily Blunt pun tidak dapat menyelamatkan film ini dari keterpurukan. So yeah, if you liked the book, do not see the film
Just DON'T.
It's bad, it's really bad.   


Selasa, 03 Januari 2017

Dangal : Absolutely one of this year's BEST!




Sutradara : Nitesh Tiwari
Writers : Nitesh Tiwari, Piyush Gupta, Shreyas Jain & Nikhil Malhotra.


Setelah gagal mewujudkan mimpinya membawa medali emas di cabang olahraga gulat untuk India, Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan) hidup di sebuah desa kecil bersama istri tercintanya, Daya (Sakshi Tanwar). Ia selalu berharap bahwa istrinya bisa memberikan seorang anak laki-laki agar bisa mewujudkan ambisinya. Namun, takdir berkata lain saat mereka dikaruniai 4 orang anak perempuan secara berturut-turut. Suatu hari, kedua anak perempuan Mahavir yang bernama Geeta (Zaira Wasim) dan Babita (Suhani Bhatnagar) mengejutkannya saat mereka berdua membuat seorang anak lelaki babak belur karena telah mengganggu mereka di sekolah. Dari sinilah kisah Dangal dimulai, saat Mahavir yang dibantu oleh ponakan remajanya (Rohit Shankanwar), melatih Geeta dan Babita yang masih kecil, dengan cara yang sangat disiplin agar kelak bisa mendapatkan medali emas di cabang olahraga gulat untuk negara tercinta, India.


Menggabungkan dua elemen (cabang olahraga wrestling dan persamaan gender/pemberdayaan perempuan) yang sedang marak di India, Dangal adalah sebuah biopik berdasarkan kisah hidup seorang Mahavir Singh Phogat yang berhasil mewujudkan impiannya melalui kerja keras dua puterinya, Geeta Phogat dan Babita Kumari, saat mereka berhasil membawa kemenangan bagi India di cabang olahraga gulat di ajang Commonwealth Games 2010.

Aamir Khan lagi-lagi membuat saya terpukau, melalui film ini ia memperlihatkan totalitasnya dalam memerankan sebuah karakter. Bobot badannya yang ia ubah, kualitas akting dan sorot matanya yang tajam, jelas menjadi kekuatan tersendiri dari Dangal. Tanpa perlu nama-nama besar di barisan pendukungnya, Aamir Khan beruntung menemukan Zaira Wasim dan Fatima Sana Shaikh yang memerankan sosok Geeta muda dan dewasa dengan sangat meyakinkan. Bersama Suhani Bhatnagar dan Sanya Malhotra yang memerankan karakter Babita muda dan dewasa, ketiganya menampilkan chemistry yang apik dan menjalin sebuah ikatan ayah-anak dengan sangat baik.

Penggarapan Dangal jelas jauh diatas film-film india pada umumnya, selain penampilan gemilang dari ketiga karakter utamanya, film ini memiliki pondasi kokoh yang terdapat dalam skenarionya yang begitu memikat dan menampilkan setiap detil kecil dalam transformasi karakter-karakter utama dan dalam setiap pertandingan yang Geeta dan Babita ikuti.

Bersama kekuatan-kekuatan tersebut, Dangal membentuk sinergi kuat melalui visual yang cantik, komposisi musik yang indah dan scoring yang berhasil membentuk emosi kuat dalam setiap adegannya. Pesan tentang persamaan gender maupun pemberdayaan perempuan di sini jelas tersampaikan dengan sangat baik, belum lagi ada bagian-bagian penting yang cukup menyentil seputar parenting yang disampaikan dengan cara yang smooth namun menohok.

Dengan hal-hal yang saya utarakan di atas, Dangal jelas menjadi sebuah masterpiece untuk industri perfilman Bollywood dan menjadi salah satu karya terbaik di penghujung tahun 2016. Highly recommended! Two thumbs up :)


Selamat menonton.      

Cek Toko Sebelah : Go see it with your loved ones!




Sutradara : Ernest Prakasa
Penulis Naskah : Ernest Prakasa & Meira Anastasia.


Koh Afuk (Chew Kin Wah) adalah seorang pemilik toko sembako yang berniat untuk mewariskan tokonya pada anak kesayangannya, Erwin (Ernest Prakasa). Erwin sendiri merupakan pekerja kantoran dengan karir gemilang dan sedang menikmati kehidupan mapannya dengan Natalie (Gisella Anastasia). Di sisi lain, anak sulung Koh Afuk yang bernama Yohan (Dion Wiyoko), sejak lama menginginkan pengakuan dari sang ayah. Ia merasa kesal karena harus selalu kalah jika dibandingkan dengan Erwin. Koh Afuk kesal dengan sikap Yohan yang selalu mencari masalah sepeninggal ibu mereka (Dayu Wijanto), belum lagi ketika Yohan memutuskan untuk menikah dengan seorang pribumi yang bernama Ayu (Adinia Wirasti) dan hidup pas-pasan sebagai fotografer freelance. Ketika kesehatan Koh Afuk mulai menurun, perseteruan keluarga ini semakin terasa sengit dan meruncing di balik ego dan pilihan masing-masing.

Cek Toko Sebelah merupakan karya kedua Ernest Prakasa setelah tahun lalu sukses besar dengan Ngenest. Melalui film ini, ia berhasil memadukan unsur komedi dan drama dengan porsi yang tepat. Di balik premisenya yang terkesan tidak komedi, Cek Toko Sebelah masih setia menampilkan lelucon-lelucon khas Ernest yang siap untuk memancing tawa penonton kemudian dengan cara yang smooth, ia memoles unsur dramanya dengan sangat mendalam dan saya yakin bisa membuat hati siapapun yang menontonnya tersentuh.

Dialog-dialognya yang cerdas dan leluconnya yang lucu seolah berpadu dengan sangat baik dengan takaran drama yang disajikan dalam film ini.

Chew Kin Wah adalah nyawa dalam film ini, ia berhasil membawakan peran Koh Afuk dengan sangat baik dan meyakinkan. Entah apa jadinya film ini jika bukan beliau yang memerankan karakter tesebut. Selain Chew Kin Wah, ada Dion Wiyoko yang juga tampil menawan sebagai Yohan. Buat saya pribadi, ini adalah akting terbaik dari seorang Dion Wiyoko. Perubahan emosi dan karakternya selama film berlangsung sungguh memikat, chemistry-nya dengan Adinia Wirasti sebagai Ayu, sungguh manis dan sangat menyejukan hati. Walau saya pribadi merasa bahwa karakter Ayu kurang diberikan porsi yang lebih banyak. Yang paling lemah di sini adalah performa dari Gisella Anastasia yang tidak mampu mengimbangi karakter Erwin dan karakter-karakter kuat lainnya. Dan Asri Welas sukses mencuri perhatian lewat perannya yang memancing tawa penonton.

Di dukung dengan sederet komika yang tampil sebagai cameo dan original soundtrack yang menghangatkan hati dari The Overtunes dan GAC, Cek Toko Sebelah jelas sebuah film yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bersiap-siaplah untuk tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan!
And yeah, go see it with your loved ones! :)

Selamat menonton.

Kamis, 29 Desember 2016

Passengers : A beautiful romance in space.




Director : Morten Tyldum

Scriptwriter : Jon Spaihts 


Morten Tyldum pertama kali membuat saya terpukau lewat karyanya yang terjudul Headhunters, sebuah film Norwegia bergenre drama/crime/thriller yang dirilis tahun 2011 lalu. Kemudian pada tahun 2014 ia kembali membuat sebuah film bertajuk The Imitation Game yang banyak mendapat pujian dari kritikus film. Maka ketika saya tahu bahwa ia akan duduk di kursi sutradara dan mengarahkan dua bintang Hollywood favorit saya, Chris Pratt & Jennifer Lawrence, dengan judul Passengers, saya sungguh antusias menantikan tanggal rilis dari film tersebut.

Berkisah tentang sebuah pesawat luar angkasa bernama Avalon yang sedang berada dalam perjalanan dari Bumi dengan membawa 5.000 penumpang menuju tempat baru bernama Homestead II. Dua orang penumpang terbangun lebih cepat 90 tahun dari waktu yang seharusnya. Jim Preston (Chris Pratt) dan Aurora Lane (Jennifer Lawrence) adalah nama dari kedua penumpang tersebut, keduanya lalu merasa kebingungan dan mencari tahu sebab mengapa mereka terbangun lebih awal. Seiring berjalannya waktu, sambil mencari cara agar mereka bisa kembali ‘tertidur’, keduanya mulai merasa saling jatuh hati dan menjalani kehidupan berdua di pesawat luar angkasa dengan fasilitas yang mewah tersebut. Mereka ditemani oleh robot bartender bernama Arthur (Michael Sheen).

Apa yang selanjutnya terjadi pada kehidupan mereka di dalam Avalon?
Premise menarik ini sangatlah sederhana dan tidak serumit film-film petualangan angkasa lainnya seperti Gravity arahan Alfonso Cuaron, Interstellar garapan Christopher Nolan ataupun The Martian-nya Ridley Scott. Hal inilah yang justru saya khawatirkan dari seorang Morten Tyldum, dengan premise sesederhana ini, akankah ia berhasil mengemas kisah Passengers menjadi sebuah kisah yang seru dan tak membosankan?

Di luar dugaan, Passengers tampil menawan dan menyenangkan. Layaknya kisah cinta antara Jack dan Rose dalam film Titanic, Tyldum berhasil menyajikan sebuah kisah romansa dengan ritme yang tepat, sehingga Passengers mampu bertutur dengan sangat baik. Kejeniusan Tyldum mengarahkan dua pemeran utamanya patut diacungi jempol, karena chemistry Pratt dan Lawrence di sini sangat mempesona dan believable.

Dengan lebih memfokuskan pada perkembangan hubungan dari kedua karakter utamanya, alur Passengers terasa sedikit lamban dan monoton di awal, tapi semuanya terbayar saat chemistry meyakinkan sebagai sepasang kekasih itu terasa real dalam paruh kedua filmnya sampai pada adegan pamungkas di ending.

Sebagai sebuah film fiksi ilmiah buatan Hollywood, tentu saja Passengers dilengkapi dengan visual efek yang memanjakan mata. Adegan melayang-layang di angkasa walaupun sudah ditampilkan dengan sangat baik dalam film Gravity, namun di sini saya masih bisa merasakan adrenalin terpompa. Belum lagi ketika melihat adegan gravitasi di kolam renang yang sukses membuat saya menahan nafas.

Overall, Morten Tyldum berhasil mengemas Passengers dengan sangat manis. Layaknya sebuah kisah percintaan antara dua anak manusia, namun dengan latar di ruang angkasa.
Selamat menonton J

Selasa, 27 Desember 2016

My Annoying Brother : Sebuah tearjerker yang dikemas dengan takaran yang pas.




Director : Kwon Soo-Kyung
Writer : Yoo Young-A


Doo-Young (Do Kyung-Soo) adalah seorang atlet Judo berbakat. Ketika sedang mengikuti sebuah turnamen, ia harus menelan pil pahit kehidupan karena kehilangan pengelihatannya. Sejak insiden tersebut, ia kehilanngan kepercayaan dirinya, menutup diri dari dunia luar dan tinggal seorang diri di rumah milik keluarganya. Mendengar hal ini, Doo-Sik (Cho Jung-Seok) yang mendekam di penjara karena kasus penipuan, mengajukan pembebasan bersyarat dengan menggunakan Doo-Young sebagai alasannya. Mereka adalah saudara tiri yang hampir 15 tahun lamanya tidak bertemu. Akhirnya, Doo-Sik diberikan waktu 1 tahun lamanya untuk merawat saudara tirinya tersebut. Kedatangan Doo-Sik yang mendadak di rumahnya, membuat Doo-Young terkejut, ada kisah masa lalu yang tidak ingin ia kenang tentang saudara tirinya itu. Berhasilkah mereka merekatkan kembali hubungan tali persaudaraan? Atau Doo-Sik hanya menggunakan alasan merawat Doo-Young untuk semata-mata keluar dari penjara?

Dengan sejumlah elemen klise yang ada dalam My Annoying Brother, Kwon Soo-Kyung justru berhasil mengemas film ini dengan takaran yang pas dan tidak berlebihan. Hal itu juga didukung oleh penampilan dari dua cast utamanya yang bermain sangat bagus dan believable sebagai kakak beradik yang memiliki sejumlah konflik dalam kehidupan mereka.

Menonton film ini membuat saya bisa tertawa terpingkal-pingkal di paruh awal untuk kemudian dibuat menangis tanpa ampun sampai adegan pamungkas menuju endingnya. Tidak heran jika ternyata film bromance comedy/drama ini sukses di tangga box office Korea Selatan.

Highly recommended sebagai tontonan untuk keluarga!
Selamat menonton :)